Didikan anak yang keras. Bisa dibilang bagus bisa dibilang buruk juga sih. Biasanya kebanyakan orang tua yang mendidik anaknya dengan keras alasannya adalah untuk menjadikan anaknya memiliki mental yang kuat dan tegar nantinya. Tapi tidak sedikit juga yang melakukannya sebagai kekerasan. Pola pikir orang tua dan langkah2 yang dilakukan dalam mendidik anak2nya biasanya dilihat dari latar belakang, kondisi, tingkah dan perilaku anak itu sendiri, dan pengalaman sekitar #menurut saya. ;)
Untuk aku sendiri, didikan orang tuaku tidak tergolong terlalu keras, tapi lumayan tegas. Terutama dari bapakku. Dimulai dari aku berumur 6 hingga 15 tahun, aku masih dididik dengan cara bapakku yang tergolong tegas. Latar belakang bapakku adalah dari keluarga yang sederhana, sejak kecil tinggal dengan adik ibunya(nenekku) dan sering tertekan sebagai resiko orang yang menumpang. Setelah tamat SMA, bapakku melanjutkan sekolah di STTD dengan didikan disana yang tergolong keras pada waktunya. Beda dengan Ibuku yang lembut tapi cerewet, judes, dan bisa keras kalau lagi marah2nya. -__-''
Aku masih ingat ketika pertama kali aku Sholat Jumat bareng bapakku. Ketika itu aku sering main2 di Masjid dengan teman2 sebaya disana. Dan tradisi anak2 sekarang ketika tahiyat akhir, mereka akan memasang posisi tersebut dengan serius setelah sebelumnya mereka berlari2 dan bermain dengan senangnya di dalam masjid. Begitu juga yang aku lakukan ketika itu. Setelah sholat selesai aku mulai dijewer bapakku. Sakit tidaknya, cukup aku sendiri yang merasakannya. :/
Ketika aku SD kelas 2. Waktu itu aku mendapat nilai 50 untuk latihan matematika. Aku masih ingat sekali waktu itu aku sembunyikan buku latihanku di balik tumpukkan genteng di sebelah rumah karena takut jika diperiksa orang tuaku mereka akan marah. Keesokan harinya, ketika aku pulang sekolah aku melihat orang tuaku sudah duduk di ruang tamu dan setelah itu aku dimarahi karena 2 hal, aku mendapat nilai kecil dan aku menyembunyikannya. Telapak tanganku pun dipukul dengan sisir. :(
Bapakku juga orangnya kalau sudah marah, omongan dia sering sekali nyakit alias nusuk banget tapi tegas dan masuk akal. Dia juga tidak segan2 untuk melakukan sesuatu kalau dia sudah marah dan kelewat kesal. Pernah ketika aku baru lulus SMP, ketika itu aku harus belajar untuk mengikuti ujian masuk SMA Negeri. Dan yang aku lakukan waktu itu sama seperti kebanyakan teman2ku yang lain, bermain dan santai. Aku setiap hari selalu bermain PS dan ibu bapakku selalu mewanti2 sebelumnya kalau aku mesti belajar untuk persiapan ujian masuk SMA. Aku tidak terlalu menghiraukannya. Mungkin ini awal dari petaka aku karena melawan mereka. Aku tidak lulus SMA Negeri. Pada posisi ini aku menjadi korban KKN di kala itu. Teman2ku yang malas belajar semua ada yang lulus SMA Negeri dengan sogokan ke guru2 disana. :@
Alhasil, PS kesayanganku dihancurka bapakku di depan aku sendiri dengan menggunakan martil. Di situlah aku mulai merasa kalau aku telah menyakiti perasaan orang tuaku terutama bapakku. Yang aku baru sadari juga adalah di kala itu seandainya aku belajar dengan tekun dan rajin serta berdoa, tidak ada yang tak mungkin. Tapi semua sudah terlambat.
Masih banyak lagi didikan dan nasihat bapakku yang lain yang tak bisa aku ceritakan satu2. Yang pasti, menurutku didikan bapakku seperti itu adalah benar. Aku dididik seperti itu karena aku anak pertama dari 4 bersaudara dan laki2 semata wayang. Aku harus memberi contoh yang baik kepada adik2ku yang semua perempuan. Aku tidak dimanja sejak kecil agar aku bisa mandiri dan lebih kuat menjalani hidup remaja dan dewasaku sekarang. Banyak keinginanku sejak kecil hingga sekarang yang belum diwujudkan mereka, itu karena agar aku tahu bagaimana susahnya mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan harus ada kerja keras untuk meraihnya.
Semua hal ada dampak negatifnya, termasuk aku sekarang..terkadang aku ingin sekali diperhatikan dan masih dirawat oleh orang tua tapi itu hampir mustahil lagi berhubung umurku yang sudah kepala 2 sekarang. Tapi sekarang aku pisah dari orang tuaku untuk melanjutkan kuliah dan ada banyak pengganti mereka seperti keluarga2 ku disini, teman2 dekat, dan tentu saja pacarku tersayang. Meski begitu, orang tuaku tak kan terganti terutama bapakku.
Terima kasih ibu, bapak..aku tidak menyesal dan aku bersyukur telah dididik kalian hingga saat ini .
:D
Teruntukkan untuk Bapak.